Minggu, 28 Oktober 2012

HAMA PENGGEREK BATANG (Chilo sacchariphagus bojer. )


HAMA PENGGEREK BATANG (Chilo sacchariphagus bojer. )
PADA TANAMAN TEBU ( Saccharum officinarum L. )

 

LAPORAN


Oleh :

MUHAMMAD HABIB SAMPURNO
 110301072
 AGROEKOTEKNOLOGI



FPERT



LABORATORIUM DASAR PERLINDUNGAN TANAMAN SUB HAMA
PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2012


HAMA PENGGEREK BATANG (Chilo sacchariphagus bojer. )
PADA TANAMAN TEBU ( Saccharum officinarum L. )

 


LAPORAN


Oleh :

MUHAMMAD HABIB SAMPURNO
 110301072
 AGROEKOTEKNOLOGI

Laporan ini sebagai salah satu syarat untuk dapat mengikuti Praktikal tes
di Laboratorium Dasar Perlindungan Tanaman Sub Hama
Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara Medan

Ditugaskan oleh :
Dosen penanggung jawab


( Ir. Fatimah Zahara )
                                                            NIP : 1959 0710 1989 03 200 1
       Diketahui oleh :                                                             Diperiksa oleh :
   Asisten Koordinator                                                        Asisten Korektor


(Ruomenson D.J. Bakara)                                                    (Ade Sartika R)     
     NIM : 080302037                                                            NIM : 080302004


LABORATORIUM DASAR PERLINDUNGAN TANAMAN SUB HAMA
PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2012

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR.......................................................................................... i
DAFTAR ISI......................................................................................................... ii
DAFTAR GAMBAR.......................................................................................... iii
PENDAHULUAN
Latar Belakang............................................................................................... 1
Tujuan Penulisan............................................................................................ 4
Kegunaan Penulisan....................................................................................... 4
TINJAUAN PUSTAKA
Botani Tanaman............................................................................................. 5
Syarat Tumbuh............................................................................................... 7
         Iklim...................................................................................................... 7
         Tanah..................................................................................................... 8
Biologi hama.................................................................................................. 9
Gejala Serangan........................................................................................... 10
Pengendalian................................................................................................ 11
PEMBAHASAN................................................................................................. 12
KESIMPULAN................................................................................................... 17
DAFTAR PUSTAKA........................................................................................ 20
LAMPIRAN

PENDAHULUAN
Latar Belakang
Tanaman Tebu (Saccharum officinarum L.) adalah tanaman penghasil gula. Gula sebagai salah satu bahan makan dan kebutuhan pokok bagi Bangsa Indonesia yang selalu meningkat dari tahun ketahun karena meningkatnya jumlah penduduk, bertambahnya pendapatan perkapita, serta terjadinya perubahan pola konsumsi masyarakat (Aritonang, 2011).
Saat ini pemerintah sedang menggalakkan penanaman tebu untuk mengatasi rendahnya produksi gula di Indonesia. Usaha pemerintah sangatlah wajar dan tidak berlebihan mengingat dulu Indonesia pernah mengalami masa kejayaan sebagai pengekspor gula sebelum perang. Untuk itu PT Natural Nusantara berusaha ikut serta mengembalikan masa kejayaan melalui peningkatan produksi tebu baik secara kuantitas, kualitas dan kelestarian (Aspek K-3) (Pulungan, 2012).
Salah satu penghambat potensi produktivitas tebu adalah adanya serangan hama. Hama penting tebu di Indonesia adalah penggerek pucuk (Tryporiza nivella) dan penggerek batang berkilat (Chilo auricilius), penggerek batang bergaris (Chilo sacchariphagus), penggerek batang raksasa (Phragmatocea castanae), kutu bulu putih (Ceratovaguna lanigera) dan kutu perisai (Aulacaspis spp.), tikus (Rattus srgentiventer dan R. exulans), lundi (Lepidiota stigma), rayap (Macrotermes gilvus), serta belalang (Valanga nigricornis)  (Suwita, 2011).
Kerugian yang disebabkan oleh hama dan penyakit tanaman tebu diperkirakan mencapai 37% dari total produksi, dan 13% di antaranya karena serangan hama. Di Amerika Serikat, kerugian akibat serangan hama jika diuangkan mencapai US$7,70 miliar per tahun atau Rp61,60 triliun per tahun (Aritonang, 2011)
Tujuan Percobaan
Untuk mengetahui bagaimana pengendalian hama Penggerek Batang  (Chilo sp) pada Tanaman Tebu (Saccharum officinarum L.).
Kegunaan Percobaan
-          Sebagai salah satu syarat untuk dapat mengikuti praktikal tes dilaboratorium Dasar Perlindungan Tanaman Departemen Hama dan Penyakit tumbuhan, Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara, Medan.
-          Sebagai bahan  informasi bagi pihak  yang membutuhkan informasi.
















TINJAUAN PUSTAKA
Botani Tanaman
Menurut   Chairunnisa  (2005),   adapun  klasifikasi  dari  tanaman  tebu (Saccharum officinarum L.) adalah sebagai berikut :
Kingdom         : Plantae
Divisi               : Spermatophyta
Subdivisi         : Angiospermae
Class                : Monocotyledonae
Ordo                : Poales
Family             : Poaceae
Genus              : Saccharum
Spesies                        : S. officinarum L.
Akar tanaman tebu berakar serabut dan menjalar hingga ke permukaan tanah. Akar  tebu dapat memanjang hingga 1,6 m, yang terdiri dari cabang atau anak akar yang banyak.  Batang tebu berbuku-buku, pada setiap buku terdapat mata tunas. Buku-buku merupakan pangkal dari daun. Batang berserat dan manis yang berasal dari kandungan kimia. Daun tebu  memiliki bulu-bulu halus pada permukaannya yang gatal bila disentuh, tipe daun tebu ini       tipe  lanset dimana tulang daun sejajar dan bentuk daun memanjang (Mangoendihardjo, 1999).
Penggunaan varietas tebu bersifat sangat dinamis.   Setiap periode waktu, varietas           yang    telah            lama     digunakan        secarterus    menerus tidak selalu menguntungkan,  sebagai  akibat  akan  terjadinya  penurunan  kualitas  genetik, kepekaan  terhadap  hama  dan  penyakit  yang  dapat  meyebabkan  merosotnya perolehan  hasil  gulaOleh  karena  itu,  untuk  menghindari  kondisi  demikian diupayakan selalu terjadi regenerasi  varietas di lapangan untuk mempersiapkan perolehan varietas pengganti.  Varietas tebu sebaiknya tidak ditaman lebih dari 8 tahun (Soedhono, 2009).
Fase     pertumbuhan   tanaman           dalam  proses  perkecambahan sangat tergantung kepada ketersedian air dan makanan yang terdapat dalam bibit.  Bibit dengan kualitas  yang jelek, misalnya diperoleh dari umur bibit yang sudah tua yang  kondisi  distribusi  ai dan  hara  dalam  jaringan  lembaga  tunas  sudah berkurang akan menyulitkan terjadinya inisiasi tumbuh tunas.  Selain itu misalnya kondisi bibit yang terinfeksi hama penyakit akan  menyebabkan hambatan dalam proses inisiasi pertunasan dan fase pertumbuhan tanaman  lainnya.  Kemudian jumlah  bibit  yang  ditanam  sangat  mempengaruhi  jumlah  tunas  dan  populasi pertumbuhan  tanaman.            Meskipun  pada  awal  perkecambahan,  jumlah  tunas berkorelas dengan           jumlah mata     yang            berinisias menjad tunas,    namun sesungguhnya pola pertumbuhan populasi tebu akan mengalami keseimbangan mencapai  populasi optimal disebabkan antara masing-masing tunas akan terjadi persaingan  terhada faktor   lingkungan  tumbuh Artinya  pola  pertumbuhan populastanaman  pada  periode  pertunasan  maksimal,  akadiikuti penurunan populasi  tanaman  sampai  mencapa pertumbuhan  populas batan optimal (Soedhono, 2009).
Kebutuhan  terhadap  bibit  tidak  saja  hanya  didasarkan  jumlah  yang memadai  sesuai  kebutuhan  luasan  tanam  tebu  giling,  tetapi  juga  bibit  yang tersedia harus terjamin  kualitasnya Bibit yang bermutu baik ukurannya adalah bibit yang menghasilkan  perkecambahan mendekati pertumbuhan seluruh mata tunas  dan  tidak  terinfeksi  ham penyakit  yang  dikenal  sebagai  organisme pengganggu bawaan. Untuk menghindari terikutkannya penyakit pada bibit tebu, maka           sebelu ditana sering   dilakuka perlakua perawata air        panas (Hot Water Treatment, HWT).  Dengan jumlah populasi mata tunas berkecambah yang tinggi akan menentukan perolehan tunas yang menghasilkan batang untuk dipanen.    Sedangkan tidak terikutkannya organisme pengganggu sudah barang tentu akan menghasilkan  kondisi tebu tanpa hambatan secara inhern sehingga pertumbuhan tebu berjalan normal (Anonimos, 2008).

Syarat Tumbuh
Iklim
Hujan  yang  merata  diperlukan  setelah  tanaman  berumur  8  bulan  dan kebutuhan ini  berkurang sampai menjelang panen. Tanaman tumbuh baik pada daerah beriklim panas dan lembab. Kelembaban yang baik untuk pertumbuhan tanaman ini > 70%. Suhu udara berkisar antara 28-34 o C (Anonimos, 2007).
Budidaya  tebu  harus  mengupayakan  kebutuhan  tebu  terhadap  variable iklim, khususnya terhadap ketersediaan air, baik dalam mengatur kecukupan air maupun  mengurangi ketersediaannya. Dalam budidaya, singkronisasi kebutuhan pertumbuhan tebu  dengan kebutuhan SDA iklim, seperti mengatur masa tanam yang baik untuk mendapatkan kebutuhan air optimal pada fase pertumbuhan awal dan  ditebang  pada  periode  musim  kemarau.  Berdasarkan  kebutuhan  air  pada setiap fase pertumbuhannya, curah hujan bulanan ideal  untuk  pertanaman tebu adalah 200 mm / bulan pada 5-6 bulan berturut - turut, 125 mm/bulan  pada 2 bulan transisi dan kurang 75 mm / bulan pada 4 - 5 bulan berturut-turut. Menurut tipe iklim Oldeman, zona yang terbaik untuk tanaman tebu adalah tipe iklim C2 dan C3. Dalam pengembangannya ke lahan kering selain kedua tipe iklim tersebut ada beberapa lahan dengan tipe  iklim yang dapat diusahakan untuk tebu dengan masukan-masukan  teknologi  adalah  B2,  C2,  C3,  D2,  E3.  Lahan  yang  dapat dikembangka untuk   pertumbuha teb denga tana cukup   ringa dan berdrainase baik B1, C1, D1 dan E1 (Anonimus, 2009).
Tanah
Tanah yang subur dengan kondisi ketersediaan air, oksigen dan makanan yang  memadai, maka tanaman tebu yang tumbuh di atasnya akan menunjukkan penampilan  pertumbuhan dan hasil produksi tebu yang baik.   Sebaliknya, pada kondisi tanah yang kurang subur sebagai akibat terdapatnya faktor pembatas yang dapat  disebabkan  oleh  keterbatasa sifa fisik  dan  atau  sifat  kimia,  akan menyebabkan  pertumbuhatanamaterhambat  dan  hasil  gula  yang  diperoleh tidak akan maksimal.  Pada kondisi kesuburan tanah tidak menguntungkan, maka untuk memaksimalkan  hasil pertumbuhan tanaman sering dilakukan manipulasi oleh manusia melalui budidaya.  Salah satu upaya yang dilakukan adalah melalui manipulasi fisik untuk mencapai kondisi status fisik tanah yang menguntungkan bagi           pertumbuhan   perakaran         dan manipulasi            kimia   untuk   meningkatkan ketersediaan hara yang biasanya dilakukan melalui  penambahan hara dari luar tanah melalui pemupukan (Soedhono, 2009).
Kesuburatanah  menentukan  keberhasilan  budidaya  tebu,  menyangkut aspefaktor  pembatas fisik dan kimia tanah. Sifafisik tanah yanmenonjol adalah drainase /  permeabilitas, tekstur dan ruang pori. Sedangkan sifat kimia tanah adalah kadar bahan organik, pH, ketersediaan hara esensial dan KTK tanah.. Kemasaman tanah (pH) yang terbaik untuk tanaman tebu adalah pada kisaran 6,0
7,0 namun masih dapat tumbuh pada kisaran pH 4,5 - 7,5. Kesuburan tanah (status hara),  berdasarkan hasil penelitian P3GI untuk  menentukan kesesuaian lahan bagi tanaman tebu dengan kriteria N total > 1,5, P2O5 tersedia > 75 ppm, K2O tersedia > 150 ppm dan kejenuhan Al > 4 bulan, masa tanam yang optimal pada akhir musim kemarau sampai awal musim hujan yaitu pertengahan Oktober sampai dengamasa tanam juga dapat  pada akhir  musim hujan  sampai awal musim kemara(pola II) dengan kondisi tanah ringan,  ngompol dapadiolah sepanjang musim. Pada daerah basah (bulan kering 2 bulan) masa tanam tebu terbaik pada awal musim kemarau (Anonimus, 2009).
Biologi Hama
Menurut          Nesbitt, dkk (1980), adapun klasifikasi dari penggerek batang tebu bergaris (Chilo sacchariphagus Bojer.) adalah sebagai berikut :
Kingdom         : Animalia
Filum               : Arthropoda
Class                : Insecta
Ordo                : Lepidoptera
Family             : Pyralidae
Genus              : Chilo
Spesies                        : C. sacchariphagus Bojer.


Telur
Bentuk telur oval, datar dan mengkilap. Telur berwarna putih dan akan berubah menjadi hitam sebelum menetas. Telur memiliki panjang 0,75 - 1,25 mm dengan rata-rata 0,95 mm. Masa inkubasi berkisar antara 4 - 6 hari dengan rata- rata sebesar 5,13 ± 0,78. Telur yang  baru diletakkan berbaris di atas permukaan daun, (9-12 butir/cm) (David, 1986).

Larva
Larva yang baru menetas panjangnya + 2,5 mm, dan berwarna kelabu. Semakin  tua  umur  larva,  warna  badan  berubah  menjadi  kuning  coklat  dan kemudian kuning putih,  disamping itu warna garis-garis hitam membujur pada permukaan abdomen sebelah atas juga semakin jelas (Pratama, 2009).
Periode  larva  berlangsung  selama  35-54  hari.   Larva  berganti  kulit sebanyak  5  kali  dan  memiliki  6  instar.  Larva  berwarna  kekuningan  dengan bergaris hitam. Panjang  larva  di setiap instar (I sampai VI) kira-kira 7,81, 13,1,18,28, 23,28, 28,29 dan 32,86 (David, 1986).
Pupa
Kepompong penggerek batang agak keras dan berwarna coklat kehitaman. Kepompong betina biasanya mempunyai badan lebih besar daripada yang jantan. masa pupa berkisar antara 8-10 hari dengan rata-rata 8,28 hari (David, 1986).
Imago
Ngengat bergerak lamban-lamban. Ngengat betina lebih besar daripada ngengat jantan. Imago mempunyai sayap dan dada berwarna kecoklatan.Abdomen imago betina biasanya  juga lebih besar daripada yang jantan Betina dewasa dan jantan memiliki masa 4 - hari  dengan rata-rata 6,37 dan 7,22 hari.  Jumlah maksimum telur yang diletakkan oleh betina adalah 400. Siklus hidup total dari ngengat sekitar 43-64 hari dengan rata-rata 53,5 hari (David, 1986).
Gejala Serangan
Larva  muda  yang  baru  menetas  hidup  dan  menggerek  jaringan  dalam pupus daun yang masih menggulung, sehingga apabila gulungan daun ini nantinya membuka maka akan terlihat luka-luka berupa lobang grekan yang tidak teratur pada  permukaan  daun.  Setelabeberapa  hari  hidup  dalam  pupus  daun,  larva kemudian  akan  keluar  dan  menuju  ke  bawah  serta  menggerek  pelepah  daun hingga menembus masuk ke dalam ruas batang. Selanjutnya  larva hidup dalam ruas-ruas batang tebu. Di sebelah luar ruas-ruas muda yang digerek akan didapati tepung gerek. Daun tanaman yang terserang terdapat bercak-bercak putih bekas gerekan  yang tidak teratur. Bercak putih ini menembus kulit luar daun. Gejala serangan pada batang tebu ditandai adanya lobang gerek pada permukaan batang. Apabila  ruas-ruas batang tersebut dibelah membujur maka akan terlihat lorong- lorong gerek yang  memanjang. Gerekan ini kadang-kadang menyebabkan titik tumbuh mati, daun muda layu atau kering. Biasanya dalam satu batang terdapat lebih dari satu ulat penggerek (Pratama, dkk, 2009).



Pengendalian
Umumnya        pengendalian   penggerek        batang bergaris (C. sacchariphagus) yang digunakan adalah:
1.      Secara  kultur  teknis  yaitu  sanitasi  lahan,  penanaman  dengan  sistem hamparan.
2.      Memotong bagian tanaman yang terserang dan membakarnya.
3.      Secara mekanis yaitu pengutipan ulat ulat di lapangan.
4.      Secara  biologis            yaitu    dengan            memanfaatkan musu alami berupa pelepasan            parasitelur     Trichogramma            spp.,     dan parasit                  larva Diatraeophaga striatalis Tns.
5.      Secara kimiawi yaitu dengan pemakaian insektisida yaitu Agrothion 50 EC (3 l/ha), Azodrin 15 WSC ( 5 l/ha) (Pratama, 2009).


PEMBAHASAN
Kerugian yang disebabkan oleh hama dan penyakit tanaman tebu diperkirakan mencapai 37% dari total produksi, dan 13% di antaranya karena serangan hama. Hal ini sesuari dengan Aritonang (2011) yang menyatakan bahwa Kerugian yang disebabkan oleh hama dan penyakit tanaman tebu diperkirakan mencapai 37% dari total produksi, dan 13% di antaranya karena serangan hama. Di Amerika Serikat, kerugian akibat serangan hama jika diuangkan mencapai US$7,70 miliar per tahun atau Rp61,60 triliun per tahun
Fase pertumbuhan tanaman dalam proses perkecambahan sangat tergantung kepada ketersedian air dan makanan yang terdapat dalam bibit.  Bibit dengan kualitas  yang jelek. Hal ini sesuai dengan Soedhono (2009) yang menyatakan bahwa  Fase pertumbuhan tanaman dalam proses perkecambahan sangat tergantung kepada ketersedian air dan makanan yang terdapat dalam bibit.  Bibit dengan kualitas  yang jelek, misalnya diperoleh dari umur bibit yang sudah tua yang  kondisi  distribusi  ai dan  hara  dalam  jaringan  lembaga  tunas  sudah berkurang akan menyulitkan terjadinya inisiasi tumbuh tunas.  Selain itu misalnya kondisi bibit yang terinfeksi hama penyakit akan  menyebabkan hambatan dalam proses inisiasi pertunasan dan fase pertumbuhan tanaman  lainnya.  Kemudian jumlah  bibit  yang  ditanam  sangat  mempengaruhi  jumlah  tunas  dan  populasi pertumbuhan  tanaman.  Meskipun  pada  awal  perkecambahan,  jumlah  tunas berkorelas dengan           jumlah mata yang        berinisias menjad tunas,           namun sesungguhnya pola pertumbuhan populasi tebu akan mengalami keseimbangan mencapai  populasi optimal disebabkan antara masing-masing tunas akan terjadi persaingan  terhada faktor   lingkungan  tumbuh Artinya  pola  pertumbuhan populastanaman  pada  periode  pertunasan  maksimal.
Bentuk telur oval, datar dan mengkilap. Telur berwarna putih dan akan berubah menjadi hitam sebelum menetas. Hal ini sesuai dengan David (1986) yang menyatakan bahwa Bentuk telur oval, datar dan mengkilap. Telur berwarna putih dan akan berubah menjadi hitam sebelum menetas. Telur memiliki panjang 0,75 - 1,25 mm dengan rata-rata 0,95 mm. Masa inkubasi berkisar antara 4 - 6 hari dengan rata- rata sebesar 5,13 ± 0,78.
Larva yang baru menetas panjangnya + 2,5 mm, dan berwarna kelabu. Semakin  tua  umur  larva. Hal ini sesuai dengan Pratama (2009) yang menyatakan bahwa Larva yang baru menetas panjangnya + 2,5 mm, dan berwarna kelabu. Semakin  tua  umur  larva,  warna  badan  berubah  menjadi  kuning  coklat  dan kemudian kuning putih,  disamping itu warna garis-garis hitam membujur pada permukaan abdomen sebelah atas juga semakin jelas.
Ngengat bergerak lamban-lamban. Ngengat betina lebih besar daripada ngengat jantan. Imago mempunyai sayap dan dada berwarna kecoklatan. Hal ini sesuai dengan David (1986) yang menyatakan bahwa Ngengat bergerak lamban-lamban. Ngengat betina lebih besar daripada ngengat jantan. Imago mempunyai sayap dan dada berwarna kecoklatan.Abdomen imago betina biasanya  juga lebih besar daripada yang jantan Betina dewasa dan jantan memiliki masa 4 - hari  dengan rata-rata 6,37 dan 7,22 hari.  Jumlah maksimum telur yang diletakkan oleh betina adalah 400.
Larva  muda  yang  baru  menetas  hidup  dan  menggerek  jaringan  dalam pupus daun yang masih menggulung, sehingga apabila gulungan daun ini nantinya membuka maka akan terlihat luka-luka berupa lobang grekan yang tidak teratur pada  permukaan  daun.  Setelabeberapa  hari  hidup  dalam  pupus  daun,  larva kemudian  akan  keluar  dan  menuju  ke  bawah  serta  menggerek  pelepah  daun hingga menembus masuk ke dalam ruas batang. Selanjutnya  larva hidup dalam ruas-ruas batang tebu. Hal ini sesuai dengan Pratama, Dkk. Yang menyatakan bahwa Larva  muda  yang  baru  menetas  hidup  dan  menggerek  jaringan  dalam pupus daun yang masih menggulung, sehingga apabila gulungan daun ini nantinya membuka maka akan terlihat luka-luka berupa lobang grekan yang tidak teratur pada  permukaan  daun.  Setelabeberapa  hari  hidup  dalam  pupus  daun,  larva kemudian  akan  keluar  dan  menuju  ke  bawah  serta  menggerek  pelepah  daun hingga menembus masuk ke dalam ruas batang. Selanjutnya  larva hidup dalam ruas-ruas batang tebu. Di sebelah luar ruas-ruas muda yang digerek akan didapati tepung gerek. Daun tanaman yang terserang terdapat bercak-bercak putih bekas gerekan  yang tidak teratur. Bercak putih ini menembus kulit luar daun. Gejala serangan pada batang tebu ditandai adanya lobang gerek pada permukaan batang. Apabila  ruas-ruas batang tersebut dibelah membujur maka akan terlihat lorong- lorong gerek yang  memanjang. Gerekan ini kadang-kadang menyebabkan titik tumbuh mati, daun muda layu atau kering. Biasanya dalam satu batang terdapat lebih dari satu ulat penggerek.
Umumnya pengendalian penggerek batang bergaris (C. sacchariphagus) yang digunakan adalah: Secara  kultur  teknis  yaitu  sanitasi  lahan,  penanaman  dengan sistem hamparan. Memotong bagian tanaman yang terserang dan membakarnya. Secara mekanis yaitu pengutipan ulat ulat di lapangan. Secara biologis yaitu            dengan            memanfaatkan musu alami berupa pelepasan parasit telur Trichogramma  spp.,  dan parasit larva Diatraeophaga striatalis Tns.Secara kimiawi yaitu dengan pemakaian insektisida yaitu Agrothion 50 EC (3 l/ha), Azodrin 15 WSC ( 5 l/ha) hal ini sesuai dengan Pratama (2009) yang menyatakan bahwa Umumnya pengendalian penggerek batang bergaris (C. sacchariphagus) yang digunakan adalah: Secara  kultur  teknis  yaitu  sanitasi  lahan,  penanaman  dengan  sistem hamparan. Memotong bagian tanaman yang terserang dan membakarnya. Secara mekanis yaitu pengutipan ulat ulat di lapangan. Secara biologis yaitu dengan memanfaatkan musuh alami berupa pelepasan parasit telur Trichogramma spp., dan parasit larva Diatraeophaga striatalis Tns. Secara kimiawi yaitu dengan pemakaian insektisida yaitu Agrothion 50 EC (3 l/ha), Azodrin 15 WSC ( 5 l/ha).

KESIMPULAN
1.      Kerugian yang disebabkan oleh hama dan penyakit tanaman tebu diperkirakan mencapai 37% dari total produksi, dan 13% di antaranya karena serangan hama.
2.      Fase pertumbuhan tanaman dalam proses perkecambahan sangat tergantung kepada ketersedian air dan makanan yang terdapat dalam bibit.
3.      Gejala serangan pada batang tebu ditandai adanya lobang gerek pada permukaan batang.
4.      Umumnya pengendalian penggerek batang bergaris (C. sacchariphagus) yang digunakan adalah: Secara  kultur  teknis  yaitu  sanitasi  lahan,  penanaman  dengan  sistem hamparan. Memotong bagian tanaman yang terserang dan membakarnya. Secara mekanis yaitu pengutipan ulat ulat di lapangan. Secara biologis yaitu dengan memanfaatkan musuh alami berupa pelepasan parasit telur Trichogramma spp., dan parasit larva Diatraeophaga striatalis Tns.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar