Minggu, 28 Oktober 2012

PENYAKIT BULAI (Peronosclerospora maydis Rac Shaw.)


PENYAKIT BULAI (Peronosclerospora maydis Rac Shaw.) PADA
TANAMAN JAGUNG (Zea mays L.)


 

MAKALAH

Oleh:


FITRIA PERMATA SARI
110301243
AGROEKOTEKNOLOGI IV B


                                                        










LABORATORIUM  DASAR PERLINDUNGAN TANAMAN SUB PENYAKIT 
PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
M E D A N
2 0 1 2
KUMPULAN JURNAL LABORATORIUM
DASAR PERLINDUNGAN TANAMAN SUB PENYAKIT

 


LAPORAN

Oleh:

FITRIA PERMATA SARI
110301243
AGROEKOTEKNOLOGI IV B


Kumpulan Jurnal Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Dapat Mengikuti Praktikal Test di LaboratoriumDasar Perlindungan Sub Penyakit Program Studi Agroekoteknologi
Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan
Ditugaskan Oleh :
Dosen Penanggung Jawab


(Ir. Mukhtar Iskandar Pinem, M. Agr)
NIP : 1953 0129 1979 03 1001
    Diketahui oleh:                                                                           Diperiksa oleh:
Asisten Koordinator                                                                     Asisten Korektor



  (Muklis Adi Putra)                                                                     (Akhmad Fauzan)
    NIM: 080302017                                                                        NIM: 080302041





LABORATORIUM  DASAR PERLINDUNGAN TANAMAN SUB PENYAKIT 
PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
M E D A N
2 0 1 2




KATA PENGANTAR
            Puji dan syukur penulis mengucapkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas berkat dan rahmat-Nya penulis dapat menyelesaikan makalah ini dengan baik.
            Judul dari makalah ini adalah “ Penyakit Bulai    (Peronosclerospora maydis) pada Tanaman Jagung (Zea mays L.) ” yang merupakan salah satu syarat untuk dapat mengikuti praktikal test di Laboratorium Dasar Perlindungan Sub Penyakit Program Studi Agroekoteknologi Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan.
            Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada  Ir. Mukhtar Iskandar Pinem, M.Agr., Ir. Lahmuddin Lubis, M.P.,  Ir. Toga Simanungkalit, M.P., dan Prof. Dr. Dra. Maryani Cyccu Tobing, M.S. selaku dosen penanggung jawab serta Abang dan Kakak Asisten Laboratorium Dasar Perlindungan Tanaman Sub Penyakit yang telah membantu penulis dalam penyelesaian makalah ini.
            Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, untuk itu penulis mengharapkan saran dan kritik yang bersifat membangun demi kesempurnaan makalah ini dan semoga dapat bermanfaat bagi pihak yang membutuhkan.
Medan,   April 2012

Penulis



DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR.......................................................................................... i
DAFTAR ISI ......................................................................................................... ii
PENDAHULUAN
Latar Belakang ............................................................................................ 1
Tujuan Penulisan ......................................................................................... 2
Kegunaan Penulisan .................................................................................... 3
TINJAUAN PUSTAKA                       
Botani Tanaman .......................................................................................... 4
Syarat Tumbuh                                                                                             
Iklim ................................................................................................ 5
Tanah ............................................................................................... 6
Biologi Penyebab Penyakit ......................................................................... 7
Daur Hidup Penyakit .................................................................................. 8
Faktor yang Mempengaruhi Penyakit.......................................................... 8
Pengendalian ............................................................................................... 9
PERMASALAHAN............................................................................................ 10
PEMBAHASAN.................................................................................................. 11
KESIMPULAN................................................................................................... 12
DAFTAR PUSTAKA......................................................................................... 13
LAMPIRAN



PENDAHULUAN
Latar Belakang
            Jagung (Zea mays L) adalah tanaman pangan kedua sesudah padi. Secara global jagung adalah tanaman pangan ketiga setelah gandum dan padi.
            Jagung berasal dari Mexico, dan di sana telah dibudidayakan selama ribuan tahun. Jagung menjadi dasar kebudayaan Aztec dan Maya. Sekarang tanaman-asal ('nenek moyang') dari jagung sudah tidak terdapat lagi di alam. Pada masa Columbus, jagung dibawa ke Spanyol, dan dari sini oleh bangsa Spanyol dan Portugis disebarkan ke Afrika dan Asia, termasuk Indonesia. Dewasa ini Amerika Serikat merupakan produsen jagung terbesar, karena menghasilkan lebih dari separo produksi dunia. Bahkan lebih dari 60 % dari jagung yang diperdagangkan di pasaran dunia berasal dari Amerika Serikat (Purseglove, 1972). Meskipun akhir-akhir ini penanaman jagung di tropik meningkat dengan pesat, namun sampai sekarang jagung masih lebih banyak ditanam di daerah beriklim sedang (temperate regions) (Semangun, 1993).
            Jagung merupakan salah satu jenis bahan makanan yang mengandung sumber hidrat arang yang dapat digunakan untuk menggantikan (mensubstitusi) beras sebab :
1. Jagung memiliki kalori yang hampir sama dengan kalori yang terkandung pada padi
2. Kandungan protein di dalam biji jagung sama dengan biji padi, sehingga jagung dapat pula menyumbangkan sebagian kebutuhan protein yang diperlukan manusia
3. Jagung dapat tumbuh pada berbagai macam tanah, bahkan pada kondisi tanah yang agak kering pun jagung masih dapat ditanam (AAK, 2006).
            Penyakit bulai atau downy mildew pada jagung sejak lama dirasa menimbulkan kerugian yang sangat besar, sehingga banyak dikenal antara para petani. Penyakit bulai adalah penyakit terpenting pada pertanian jagung di Indonesia. Kerugian karena penyakit ini dapat mencapai kerugian hingga 90%, sehingga penyakit ini menyebabkan penanaman jagung mengandung resiko yang tinggi (Silitonga, dkk., 2007). Penyakit bulai adalah penyakit yang paling merusak pada tanaman jagung di Indonesia (Sudjono, 1979) maupun di negara lain di dunia. Di Indonesia dilaporkan penyebaran penyakit bulai meliputi 25 provinsi. Walaupun ada 5 species Peronosclerospora penyebab penyakit bulai pada tanaman jagung telah dilaporkan (Renfo, 1980) hanya ada 2 species yang telah dilaporkan sampai saat ini di Indonesia yaitu P. maydis dan P. philippinensis (Wakman, 2001).
           

Tujuan Penulisan
            Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui penyakit bulai yang disebabkan oleh jamur Peronosclerospora maydis pada tanaman jagung  (Zea mays L.).

Kegunaan Penulisan
-           Sebagai salah satu syarat untuk dapat mengikuti praktikal test di  Laboratorium  Dasar Perlindungan Sub Penyakit Program Studi Agroekoteknologi Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara,           Medan.
-           Sebagai bahan informasi bagi pihak yang membutuhkan.


 TINJAUAN PUSTAKA
Botani Tanaman
            Menurut Rukmana (1997), jagung diklasifikasikan sebagai berikut : Kingdom Plantae; divisi Spermatophyta; Subdivisio Angiospermae; Kelas Monocotyledoneae; Ordo Poales; Famili Poaceae (Graminae); Genus Zea; Spesies Zea mays L.
            Suku rumput-rumputan (Gramineae), khususnya jagung, memiliki banyak species, misalnya, Zea mays forma tunicata Larranhage, f.excellens Alef, f. microsperma Korniche, f. dentiformis Korniche var erythrolepis, var. amylaceae, dan var. rugosa. Persilangan antarspecies dan antargenus jagung menghasilkan varies atau kultivar baru (Rukmana, 1997).
            Setelah perkecambahan, akar primer awal memulai pertumbuhan tanaman. Sekelompok akar sekunder berkembang pada buku-buku pangkal batang dan tumbuh menyamping. Akar yang tumbuh relatif dangkal ini merupakan akar adventif dengan percabangan yang amat lebat (Rubaztky dan Yamaguchi, 1998).
            Batang tanaman jagung silindris dan tidak berlubang seperti halnya batang tanaman padi. Batang tanaman jagung yang masih muda (hijau) rasanya manis karena cukup banyak mengandung zat gula. Rata-rata panjang (tinggi) tanaman jagung antara satu sampai tiga meter di atas permukaan tanah (Warisno, 1998).
            Daun jagung tumbuh di setiap ruas batang. Daun ini berbentuk pipa, mempunyai lebar 4-15 cm dan panjang 30-150 cm, serta didukung oleh pelepah daun yang menyelubungi batang. Daun mempunyai dua jenis bunga yang berumah satu (Wakman dan Burhanuddin, 2007).
            Pada setiap tanaman jagung terdapat bunga jantan dan bunga betina yang letaknya terpisah. Bunga jantan terdapat pada malai bunga di ujung tanaman, sedangkan bunga betina terdapat pada tongkol jagung. Bunga betina ini biasanya disebut tongkol selalu dibungkus kelopak-kelopak yang jumlahnya sekitar 6-14 helai. Tangkai kepala putik merupakan rambut atau benang yang terjumbai di ujung tongkol sehingga kepala putiknya menggantung di luar tongkol. Bunga jantan yang terdapat di ujung tanaman masak lebih dahulu daripada bunga betina (Wakman dan Burhanuddin, 2007).
            Jagung memiliki buah matang berbiji tunggal yang disebut karyopsis. Buah ini gepeng dengan permukaan atas cembung atau cekung dan dasar runcing. Buah ini terdiri endosperma yang melindungi embrio lapisan aleuron dan jaringan perikarp yang merupakan jaringan pembungkus.
(Rubaztky dan Yamaguchi, 1998).
Syarat Tumbuh
Iklim
            Untuk pertumbuhan optimalnya jagung menghendaki penyinaran matahari yang penuh. Di tempat-tempat yang teduh  pertumbuhan jagung akan merana dan tidak mampu membentuk buah. Di Indonesia suhu semacam ini terdapat di daerah dengan ketinggian antara 0 - 600 m dpl dan curah hujan optimal yang dihendaki antara 85 - 100 mm per bulan merata sepanjang pertumbuhan tanaman.
(Wakman dan Burhanuddin, 2007).
            Selama pertumbuhan, tanaman jagung membutuhkan suhu optimum  antara 23oC -27oC. Meskipun keadaan suhu di Indonesia tidak merupakan masalah bagi pengembangan usaha tani jagung, tetapi panen pada musim kemarau lebih baik daripada panen pada musim hujan. Panen pada musim kemarau berpengaruh terhadap makin cepatnya kemasakan biji dan mempermudah proses pengeringan biji di bawah sinar matahari. Secara umum, tanaman jagung dapat tumbuh di dataran rendah sampai dataran tinggi kurang lebih 1.300 m dpl, kisaran suhu udara antara 13-38, dan mendapatkan sinar matahari yang penuh.
(Rukmana, 1997).
Tanah
            Tanaman jagung toleran terhadap reaksi keasaman tanah pada kisaran pH 5,5 - 7,0. Tingkat keasaman tanah yang paling baik untuk tanaman jagung adalah pada pH 6,8. Pada tanah yang memiliki keadaan pH 7,5 dan 5,7 produksi jagung cenderung turun (Wakman dan Burhanuddin, 2007).
            Tanaman jagung  toleran terhadap reaksi keasaman tanah pada kisaran pH 5,5 - 7,0. Tingkat keasaman tanah yang paling baik untuk tanaman jagung adalah pada pH 6,8. Hasil penelitian di luar negeri menunjukkan bahwa reaksi tanah berpengaruh terhadap hasil jagung. Reaksi tanah yang memberikan hasil tertinggi pada jagung adalah pH 6,8. Pada tanah yang memiliki keadaan pH 7,5 dan 5,7 produksi jagung cenderung mulai turun. Lahan kering di Indonesia sebagian besar adalah Podsolik Merah Kuning (PMK) yang pHnya rata-rata rendah (masam). Bila lahan kering ber-pH masam (pH kurang dari 5,5) dialokasikan untuk penanaman jagung mg, perlu dilakukan pengapuran terlebih dahulu.
(Rukmana, 1997)



Biologi Penyebab Penyakit
Biologi Patogen Peronosclerospora maydis (Rac.) Menurut Smith and Renfro (1999) klasifikasi dari patogen penyebab penyakit bulai adalah: Kingdom Fungi; Filum Oomycota; Kelas Oomycetes; Ordo Sclerosoprales; Family            Sclerosopraceae; Genus Peronosclerospora; Spesies Peronosclerospora maydis Rac (Shaw).
Konidiofor berukuran 132 - 261 mikron, tipis. Konidianya hialin, berdinding tipis, berukuran 24 - 46.6 x 12 - 20 mikron. Oogonianya berwarna coklat kemerahan, berbentuk elips tidak beraturan, berukuran 55 - 73 x 49 - 58 mikron (Singh, 1998).
            Pada umumnya konidiofor mempunyai percabangan tingkat tiga atau empat. Cabang tingkat terakhir membentuk sterigma. Konidium yang masih muda berbentuk bulat, sedang yang sudah masak dapat membentuk jorong. Konidium tumbuh dengan membentuk pembuluh kecambah (Semangun, 1993).
                                                
 







Gambar 1. P. maydis
Sumber.http://balitsereal.litbang.deptan.go.id/bjagung/satutujuh.pdf

Daur Hidup Penyakit
            Peronosclerospora maydis tidak dapat hidup secara saprofitik. Selain itu, jamur tidak memebentuk oospora. Tidak terdapat tanda-tanda bahwa jamur bertahan dalam tanah. Penanaman di bekas pertanaman yang terserang berat dapat sehat sama sekali. Oleh karena itu jamur ini harus bertahan dari musim ke musim pada tanaman hidup. Jamur dapat terbawa dalam biji tanaman sakit. Namun ini hanya terjadi pada biji yang masih  muda dan basah, pada jenis jagung yang rentan. Konidium terbentuk di waktu malam pada waktu daun berembun dan konidium segera dipencarkan oleh angin. Oleh karena embun hanya terjadi bila udara tenang, pada umumnya konidium tidak dapat terangkut jauh oleh angin. Konidium segera berkecambah dengan membentuk pembuluh kecambah yang akan mengadakan infeksi pada daun muda dari tanaman muda melalui mulut kulit. Pembuluh kecambah membentuk apresorium di muka mulut kulit ini.
(Semangun, 1993).
Faktor yang Mempengaruhi Penyakit
            Penyakit bulai pada jagung terutama terdapat di dataran rendah. Konidium yang paling baik berkecambah pada suhu 30 ºC. Infeksi hanya terjadi kalau ada air, baik ini air embun, air hujan. Infeksi sangat ditentukan oleh umur tanaman dan umur daun yang terinfeksi. Tanaman yang berumur lebih dari 3 minggu cukup tahan terhadap infeksi, dan makin muda tanaman, makin rentan pula.
(Semangun, 1993).



            Pembentukan konidia jamur ini menghendaki air bebas, gelap dan suhu tertentu yaitu 24 ºC. Penyakit ini merupakan penyakit yang paling berbahaya. Penyebarannya sangat luas, kehilangan hasil dapat mencapai 90%.
(Wakman dan Burhanuddin, 2007).
Pengendalian
            Menurut Semangun (1993), pengendalian penyakit bulai yaitu:
1. Penanaman varietas jagung yang tahan terhadap penyakit bulai seperti Arjuno,   Pioner 12, Abimanyu.
2. Segera mencabut tanaman yang menunjukkan gejala penyakit agar tidak menjadi sumber infeksi bagi tanaman di sekitarnya, terutama tanaman yang lebih muda.
3. Merawat benih dengan metalaksil (ridomil 35 SD).
            Tiga cara pengelolaan penyakit bulai dengan menggunakan kultur teknis, penggunaan fungisida dan penanaman varietas tahan bulai. Hal yang paling baik dapat digunakan kombinasi dari ketiga pengendalian tersebut (Singh, 1998).
            Selain itu, dapat dilakukan aerase dan drainase tanah agar keadaan kebun tidak lembab. Perlu juga dilakukan pergiliran (rotasi) tanam dengan bukan tanaman yang sefamili (Rukmana, 1997).


PERMASALAHAN
            Gejala penyakit bulai dominan tampak pada daun tanaman jagung dibanding dengan bagian tanaman lainnya. Pada tanaman dewasa yaitu daun yang sudah tua terdapat titik-titik noda yang berwarna kecoklatan seperti bulai serta terdapat serbuk yang berwarna kuning kecoklatan. Pada permukaan atas dan bawah daun terdapat bercak kecil atau seperti bisul.
            Salah satu penyebab rendahnya hasil jagung di Indonesia adalah serangan penyakit bulai (P. maydis). Direktorat Perlindungan Tanaman melaporkan bahwa pada periode 1978-1981 rata-rata areal pertanaman jagung yang rusak oleh penyakit ini sebesar 57.871 ha dengan intensitas serangan mencapai 26, 5 %.
            Penyakit bulai (P. maydis) merupakan penyakit yang endemis, banyak kerugian yang diakibatkan oleh penyakit ini dan sering menjadi penyebab utama rendahnya hasil di beberapa daerah sentra produksi jagung di Indonesia. Kehilangan hasil akibat penyakit ini cukup besar dapat mencapai antara 45-70%. Di Amerika Serikat kehilangan hasil mencapai 45%, di Nigeria sebesar 50% dan lebih besar lagi di Afrika mencapai 70%.
            Pengendalian penyakit bulai dapat dilakukan dengan berbagai cara seperti menanam varietas tahan, pengaturan waktu tanama, dan penggunaan bahan kimia (fungisida), tetapi penggunaan fungisida dalam pengendalian penyakit bulai pada jagung semakin lebih sering dilakukan sehingga tanaman menjadi resisten terhadap penyakit tersebut akibat penggunaan fungisida secara terus menerus dan tidak sesuai dengan dosis anjuran.


PEMBAHASAN
            Gejala penyakit bulai dominan tampak pada daun tanaman jagung dibanding dengan bagian tanaman lainnya. Pada daun yang sudah tua terdapat titik-titik noda yang berwarna kecoklatan seperti bulai serta terdapat serbuk yang berwarna kuning kecoklatan. Hal ini sesuai dengan literatur yang dikemukakan Semangun (1993) yang menyatakan bahwa pada tanaman dewasa terdapat titik noda yang berwarna kecoklatan seperti karat dan serbuk.
            Salah satu penyebab rendahnya hasil jagung di Indonesia adalah serangan penyakit bulai (P. maydis).  Areal pertanaman jagung yang rusak oleh penyakit ini sebesar 57.871 ha dengan intensitas serangan mencapai 26, 5 %. Hal ini sesuai dengan literatur yang dikemukakan oleh Rukmana (1997) yang menyatakan bahwa pada areal tanaman jagung di Indonesia dimana intensitas serangan akibat penyakit ini mencapai 26,5%.
            Penyakit bulai pada jagung terutama terdapat di dataran rendah. Konidium yang paling baik berkecambah pada suhu 30 ºC. Hal ini sesuai dengan literatur yang dikemukakan Semangun (1993) yang menyatakan bahwa infeksi hanya terjadi kalau ada air, baik ini air embun, air hujan. Infeksi sangat ditentukan oleh umur tanaman dan umur daun yang terinfeksi. Tanaman yang berumur lebih dari 3 minggu cukup tahan terhadap infeksi, dan makin muda tanaman, makin rentan.
Pembentukan konidia jamur ini menghendaki air bebas, gelap dan suhu tertentu yaitu 24 ºC. Hal ini sesuai dengan literatur Wakman dan Burhanuddin (2007) yang menyatakan bahwa penyakit ini merupakan penyakit yang paling berbahaya dan penyebarannya sangat luas, kehilangan hasil dapat mencapai 90%.

KESIMPULAN
  1. Penyakit bulai pada daun jagung disebabkan oleh jamur Peronoscleospora maydis Rac Shaw.
  2. Gejala penyakit bulai dominan tampak pada daun tanaman jagung dibanding dengan bagian tanaman lainnya. Pada daun yang sudah tua terdapat titik-titik noda yang berwarna kecoklatan seperti bulai serta terdapat serbuk yang berwarna kuning kecoklatan.
  3. Kehilangan hasil akibat penyakit ini cukup besar dapat mencapai antara 45-70%.
  4. Pada areal pertanaman jagung yang rusak oleh penyakit ini sebesar 57.871 ha dengan intensitas serangan mencapai 26, 5 %.
  5. Pengendalian dengan menggunakan fungisida dianjurkan pada saat intensitas serangan penyakit bulai lebih besar 21%.

DAFTAR PUSTAKA
AAK. 2006. Teknik Bercocok Tanam Jagung. Kanisius. Badan Pusat Statistik        Yogyakarta.
http://balitsereal.litbang.deptan.go.id/bjagung/satutujuh.pdf  Diakses pada tanggal 3 April 2012.

http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/23043/3/Chapter%20I.pdf             Diakses pada   tanggal 3 April 2012.

Rubaztky, V. E., dan Yamaguchi, M. 1998. Sayuran Dunia 1. Terjemahan C.         Herison, ITB   Press, Bandung, Sastrosupardi.

Rukmana, H.R. 1997. Usaha Tani Jagung. Kanisius. Yogyakarta

Semangun, H. 1993. Penyakit-penyakit Tanaman Pangan di Indonesia. Gajah         Mada   University Press. 449 hal

Singh, P.P.S, Y.C. Shin, C.S. Park & Y.R. Chung. 1998. Biological control of       Fusarium wilt             of cucumber by chitinolytic bacteria. Phytopathology 89 :         92–      99.

Smith, D.R. and Renfro, B.L. 1999. ‘Downy mildews’ in Compendium of Corn    Diseases. APS Press, Minneapolis, MI.     

Wakman, W., dan Burhanuddin. Penyakit bulai pada tanaman jagung di     Kabupaten Bengkayang Propinsi Kalimantan Barat. Prosiding Seminar             Ilmiah dan       Pertemuan       Tahunan  PEI dan PFI XVIII Komda Sul-      Sel, 2007. Hal. 174-178

Warisno. 1998. Budidaya Jagung Hibrida. Kanisius. Yogyakarta








Tidak ada komentar:

Posting Komentar