Minggu, 28 Oktober 2012

HAMA ULAT KROP KUBIS (Crocidolomia pavonana F.)


HAMA ULAT KROP KUBIS (Crocidolomia pavonana F.) (Lepidoptera:Pyralidae)
PADA TANAMAN KUBIS (Brassica oleracea L.)




LAPORAN

Oleh:

MIRANDA AMALIA NASUTION
110301065
AGROEKOTEKNOLOGI


http://reensaikoe.files.wordpress.com/2009/11/pertanian.jpg



LABORATORIUM DASAR PERLINDUNGAN TANAMAN SUB HAMA
PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2012



HAMA ULAT KROP KUBIS (Crocidolomia pavonana F.) (Lepidoptera:Pyralidae)
PADA TANAMAN KUBIS (Brassica oleracea L.)




LAPORAN

Oleh:

MIRANDA AMALIA NASUTION
110301065
AET

Makalah Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Mengikuti Praktikal Test di Laboratorium
Dasar Perlindungan Tanaman Sub Hama Program Studi Agroekoteknologi
Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara Medan

Ditugaskan Oleh:
Dosen Penanggungjawab Laboratorium


(Ir. Fatimah Zahara)
NIP : 1959 0710 1989 032001
     Disetujui Oleh :                                                                            Diperiksa Oleh :
Asisten Koordinator                                                                      Asisten Korektor



(Ruomenson D. J Bakara)                                                           (Ary Hutama Samosir)
   NIM: 080302037                                                                             NIM: 080302005



LABORATORIUM DASAR PERLINDUNGAN TANAMAN SUB HAMA
PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2012

KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena-Nya lah kita masih dapat merasakan indahnya ilmu pengetahuan. Dan karena-Nya lah penulis dapat menyelesaikan makalah ini.
Adapun judul laporan adalah Hama Ulat Krop Kubis (Crocidolomia pavonana F.) (Lepidoptera:Pyralidae) Pada Tanaman Kubis (Brassica oleracea L.). Pembuatan laporan ini bertujuan sebagai salah satu syarat untuk dapat mengikuti ujian Praktikal Test di Laboratorium Dasar Perlindungan Tanaman Sub Hama Fakultas Pertanian Sumatera Utara, Medan.
Pada kesempatan ini penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada Ir. Fatimah Zahara., selaku dosen penanggung jawab Laboratorium Dasar Perlindungan Tanaman Sub Hama, serta para asisten yang telah memberikan bimbingan dalam penyelesaian makalah ini.
Penulis menyadari bahwa laporan ini belum sempurna, oleh karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun demi kesempurnaan makalah ini. Akhir kata penulis mengucapkan terima kasih.

Medan,  23 Mei 2012
Penulis



DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ................................................................................. i
DAFTAR ISI ............................................................................................... ii
DAFTAR GAMBAR ................................................................................. iii
PENDAHULUAN
Latar Belakang .............................................................................................. 1
Tujuan Penulisan ............................................................................................ 2
Kegunaan Penulisan ...................................................................................... 2
TINJAUAN PUSTAKA
Botani Tanaman ............................................................................................. 3
Syarat Tumbuh .............................................................................................. 4
Iklim ................................................................................................... 4
Tanah ................................................................................................. 5
Biologi Hama ..................................................................................... 6
Gejala Serangan.................................................................................. 8
Pengendalian...................................................................................... 9
PERMASALAHAN .................................................................................. 11
PEMBAHASAN ........................................................................................ 13
KESIMPULAN ......................................................................................... 14
DAFTAR PUSTAKA ............................................................................... 15
LAMPIRAN

PENDAHULUAN
Latar Belakang
            Sebelum dibudidayakan kubis merupakan tumbuhan liar disepanjang Pantai Laut Tengah, Inggris, Denmark, dan pantai barat Perancis sebelah utara. Kubis yang tumbuh liar ini sering disebut gulma. Kubis telah dikenal manusia sejak tahun 2.500-2.000 sebelum Masehi. Oleh orang Mesir dan Yunani Kuno, tanaman kubis sangat dipuja dan dimuliakan. Dalam perkembangan selanjutnya, kubis dibudidayakan di Eropa sekitar abad ke-9 Masehi. Di Amerika, kubis mulai ditanam ketika para imigran Eropa menetap di benua itu. Pada abad ke-16 atau ke-17, kubis mulai ditanam di Indonesia. Pada abad tersebut orang Eropa mulai berdagang dan menetap di Indonesia. Sekarang, penanaman kubis sebagai komoditas sayuran telah tersebar luas di seluruh Indonesia (Pracaya,2001).
            Dasar Perlindungan Tanaman merupakan cara untuk mencegah adanya hama dan penyakit yang dapat merusak tanaman sehingga menurunkan hasil dari tanaman tersebut. Perlindungan tanaman dapat dilakukan dengan berbagai cara, antara lain dengan cara kultur teknis, Mekanis, penggunaan musuh alami atau dengan pengendalian hama terpadu (PHT) yang sedang digalakkan pemerintah (Ahmad, 2007).
            Kubis menghendaki cukup air akan tetapi tidak menghendaki adanya hujan lebat yang terus-menerus. Curah hujan yang baik antara 100-1500 mm/th dengan kelembaban optimal antara 60-100% (Sunarjono, 1980). Penanaman kubis pada musim hujan lebih menguntungkan karena adanya air yang cukup mengingat tanaman ini memerlukan air cukup banyak uantuk pertumbuhannya. Untuk kubis muda membutuhkan 300 cc air/hari, sedangkan setelah dewasa memerlukan 400-500 cc/hari. Produksi hasil-hasil pertanian mengalami kereugian yang sangat besar akibat serangan serangga pada tanaman budidaya. Hal ini disebabkan adanya kemampuan adaptasi dan daya persaingan yang tinggi yang dimiliki oleh serangga. Salah satu masalah yang dihadapi dalam budidaya tanaman kubis yakni adanya serangan hama. Kehilangan hasil tanaman kubis akibat serangan hama P. xylostella dan C. binotalis dapat mencapai 100% (Santosa dan Sartono, 2007).
            Serangan hama dan penyakit merupakan faktor pembatas produksi yang masih berpengaruh besar  dalam budidaya kubis. Selain menyerang tanaman serangga juga dapat berperan sebagai vector penyakit yang berbahaya. (Hadiwigeno,1992)
            Ulat crop (Crocidolomia binotalis Zell.)merupakan hama yang penting pada tanaman kubis. Munculnya hama ini pada pertanaman kubis merupakan ancaman yang serius bagi petani. Pada tahun 1998 Balai Proteksi Tanaman Pangan & Hortikultura V melaporkan ulat crop (C. binotalis) merupakan hama yang menempati urutan pertama penyebab kerusakan tanaman kubis di Jawa Tengah. Serangan hama ini mengakibatkan turunnya produksi mencapai 50 persen per hektar. Serangan C.binotalis pada tanaman kubis sampai sekarang belum dapat diatasi secara memuaskan, meskipun pengendalian kimia telah dilakukan secara intensif. (http://pertanian.uns.ac.id/~agronomi/agrosains)
Tujuan Penulisan
            Laporan bertujuan untuk mengetahui secara spesifik hama ulat krop kubis (Crocidolomia pavonana. F) yang mengganggu komoditi tanaman kubis (Brassica oleracea) beserta cara pengendaliannya.
Kegunaan Penulisan
-          Kegunaan penulisan adalah sebagai salah satu syarat untuk dapat mengikuti praktikal test di Laboratorium Dasar Perlindungan Tanaman Sub Hama Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara Medan.
-          Sekaligus menjadi bahan informasi bagi pihak yang membutuhkan.



TINJAUAN PUSTAKA
Botani Tanaman
            Adapun sistematika tanaman kubis (Brassica oleracea L.) menurut Rukmana (2010) adalah
Kingdom                     :  Plantae
Divisio                         :  Spermatophyta
Sub divisio                  :  Angiospermae
Kelas                           :  Dicotyledoneae
Ordo                            :  Papavorales
Famili                          :  Cruciverae (Brassicaceae)
Genus                          :  Brassica
Spesies                        :  Brassica oleracea L. var. capitata L.
            Kembang kol (Brassica oleracea) adalah salah satu anggota keluarga kubis. Disebut demikiankarena bagian tanamanyang dimanfaatkan adalah bunganya. Kembang kol merupakan bunga yang tersusun dari rangkaian bunga kecil bertangkai pendek; tersusun padat; berdaging serta berwarna putih bersih, putih kecoklatan atau kekuningan.
(Novary,1997)
            Kubis merupakan tanaman setahun atau yang berbentuk perdu. Rasa daunnya segar, renyah dan sedikit pedas. Kubis dapat digunakan sebagai sayur, lalab maupun bahan pelengkap masakan yang lain.
(Sutarya dkk, 1995)
            Dalam bahasa latin diberi nama Brassica oleraceovar. Penanaman biasanya menggunakan biji, namun ada kol yang dibiakkan dengan tunas atau stek. Kubis jenis ini disebut dengan kubis layur. Selain kubis putih dan kubis layur ada pula yang disebut dengan kubis daun (Brassica aleracia forma). Kubis jenis ini paling mudah menanamnya, dapat tumbuh dengan baik di daratan rendah maupun di pegunungan. Kubis daun hanya di ambil daunnya saja karena kubis ini tidak dapat membentuk telur seperti kubis lainnya. Kubis ini dijual dalam bentuk daun yang disusun dalam ikatan. (Mulyono, 2012)
            Kubis bunga termasuk tanaman yang mempunyai batang agak pendek, daunnya berbentuk bujur telur atau panjang dan bergerigi, tangkai bunga dan pangkal daun menebal, serta menghasilkan massa bunga yang berwarna putih dan lunak. Daun kubis bunga umumnya lebih panjang dan lebih sempit dibanding kubis krop. Daun daun yang tumbuh sebelum terbentuk massa bunga, umumnya berukuran kecil dan melengkung untuk melindungi bunga. (Rukmana, 2012)
Syarat Tumbuh
Iklim
Kubis bunga biasa tumbuh pada daerah yang bersuhu antara 20-25ºC. Suhu yang terlalu rendah atau terlalu tinggi akan menyebabkan pertumbuhan dan perkembangan bunganya terganggu. Sedangkan suhu optimum untuk pertumbuhannya adalah 17ºC. (Splittstoesser, 1984).
Curah hujan yang cukup sepanjang tahun dapat mendukung kelangsungan hidup tanaman karena ketersedian air tanah yang mencukupi. Tanaman Kubis tergolong tanaman yang tahan terhadap curah hujan, sehingga penanaman pada musim hujan masih bisa memberikan hasil yang cukup baik. Curah hujan yang sesuai untuk pembudidayaan tanaman Kubis adalah 1000-1500 mm/tahun. Akan tetapi tanaman kubis yang tidak tahan terhadap air yang menggenang (Ahmad, 2007).
Di daerah sub tropisyang udaranya dingin, bunga akan keluar dari ketiak daun. Bunga terdiri dari 4 helai daun kelopak berwarna hijau, 4 helai daun mahkota bnerwarna kuning muda, 4 helai benangsari bertangkai panjang, 2 helai benang sari bertangkai pendek dan 1 buah putik yang beruang dua. Buah berbentuk polong, panjang dan ramping berisi biji. Biji berbentuk bulat kecil berwarna coklat sampai kehitam-hitaman (Santosa dan Sartono, 2007).
Tanah
Kubis dapat ditanam hampir di semua jenis tanah. Tanah yang ideal untuk kubis adalah andosol dengan tekstur liat berpasir dengan kandungan bahan organik tinggi (>1%). Dengan drainase baik dan tidak tegenang. Lalu pH tanah antara 4.3-6.5 dan yang optimal adalah pada pH 5.5-6.5. (deptan.go.id , 2000).
Pada pH tanah yang rendah akan menyebabkan terjadinya gangguan pada penyerapan hara oleh tanaman sehingga secara menyeluruh tanaman akan terganggu pertumbuhannya. Di samping itu, kondisi tanah yang masam (kurang dari 5,5), menyebabkan beberapa unsur hara , seperti magnesium, boron (B), dan molbdenium (Mo), menjadi tidak tersedia dan beberapa unsur hara, seperti besi (Fe), alumunium (Al), dan mangan (Mn) dapat menjadi racun bagi tanaman. Sehingga dengan demikian bila kubis ditanam dengan kondisi yang terlalu masam, tanaman akan menderita penyakit klorosis dengan menunjukkan gejala daun berbintik-bintik kuning dan urat-urat daun berwarna perunggu dan daun berukuran kecil dan bagian tepi daun berkerut (Ahmad, 2007).
Kemasaman tanah sangat berpengaruh terhadap ketersediaan hara didalam tanah, aktifitas kehidupan jasad renik tanah dan reaksi pupuk yang diberikan ke dalam tanah. Penambahan pupuk ke dalam tanah secara langsung akan mempengaruhi sifat kemasamannya, karena dapat menimbulkan reaksi masam, netral ataupun basa, yang secara langsung ataupun tidak dapat mempengaruhi ketersediaan hara makro atau hara mikro. Ketersediaan unsur hara mikro lebih tinggi pada pH rendah. Semakin tinggi pH tanah ketersediaan hara mikro semakin kecil (Santosa dan Sartono, 2007).
Biologi Hama
            Menurut Juma (1997), Ulat Crop diklasifikasikan sebagai berikut :
Kindong          : Animalia
Phylum            : Arthropoda
Kelas               : Insecta
Ordo                : Lepidoptera
Family             : Pytalidae
Genus              : Crocidolomia
Spesies            : Crocidolomia binotalis Zell.
            Telur berukuran 5 mm dan biasanya berkumpul berkisar antara 10-300 butir dalam satu daun. Telur berwarna hijau cerah dan muda berkamuflase pada daun. Telur biasanya diletakkan pada bagian bawah daun(Ahmad, 2007).

            Larva instar satu bersifat gregarious, memakan daun pada permukaan bawah dnegan menyisakan lapisan epidermis atas. Larva menghindari cahaya. Kepala larva instar awalnya berwarna hitam kecoklatan dengan tubuh berwarna hijau. Warna larva bervariasi, umumnya berwarna hijau dengan batas garis dorsal dan lateral berwarna kekuningan. Panjang larva sekitar 18 mm (Purnamasari, 2006).
            Larva berukuran berkisah antara 18-25mm dan memiliki kepala hitam serta warna hijau pada tubuhnya tergantung corak daun yang mereka makan.Biasanya ulat berada pada bagian bawah daun karena mereka cenderung menghindari cahaya. Pada hari keempat dan kelima larva akan memakan daun dari bagian bawah dan akan menyebabkan kerusakan yang parah pada daun sebelum ulat bergerak pada pusat tanaman (Ahmad, 2007).
   
                Panjang berkisar antara 8.5 sampai 10.5mm dan berbentuk bulat dengan berwarna hijau cerah dan coklat gelap, pupa biasanya diselubungi oleh tanah (Ahmad, 2007). Pupa terdapat pada kokon yang terbuat dari butiran tanah dan membentuk lonjong dengan stadium 9 hari (Wahyuni, 2006).
Ngegat jantan umumnya berukuran lebih besar daripada betinanya. Jantan berukuran 20-25mm dan betina 8-11mm. Pada betina dan jantan mempunyai warna coklat pada bagian sayap. Jantan pada umumnya mempunyai warna yang lebih cerah. Pada siang hari ngengat akan besembunyi pada bagian tubuh pohon dan aktif pada malam hari (Ahmad, 2007). Imago memiliki sayap dengan bintik putih dan sekumpulan sisik berwarna kecoklatan. Imago betina dapat hidup selama 16-24 hari. Pengendalian yang dapat dilakukan secara mekanis dengan mengumpulkan larva dengan tangan (Wahyuni, 2006).


Gejala Serangan
            Ulat Crop kubis (Crocidolomia binotalis Zell.) sering menyerang titik tumbuh sehingga sering disebut ulat jantung kubis. Ulatnya kecil berwarna hijau lebih besar dari ulat tritip,jika sudah besar garis-garis coklat,jika diganggu agak malas untuk bergerak. Larva muda bergerombol di permukaan bawah daun kubis dan meninggalkan bercak putih pada daun yang dimakan.Larva instar ketiga sampai kelima memencar dan menyerang pucuk tanaman kubis sehingga menghancurkan titik tumbuh. Akibatnya tanaman mati atau batang kubis membentuk cabang dan beberapa crop yang kecil-kecil. Ulat krop dikenal sebagai hama yang sangat rakus secara berkelompok dapat menghabiskan seluruh daun dan hanya meninggalkan tulang daun saja. Pada populasi tinggi terdapat kotoran berwarna hijau bercampur dengan benang-benang sutera. Ulat krop juga masuk dan memakan krop sehingga tidak dapat dipanen sama sekali. (Ahmad, 2007).
Larva muda memakan daun dan meninggalkan lapisan epidermis yang kemudian berlubang setelah lapisan epidermis kering. Setelah mencapai instar ketiga larva memencar dan menyerang daun bagian lebih dalam menggerek ke dalam krop dan menghancurkan titik tumbuh sehingga tanaman akan segera mati (http://web.entomology.cornell.edu/).
Ulat ini biasanya ditandai dengan adanya kumpulan kotoran pada daun kubis dan krop menjadi berlubang-lubang yang menyebabkan kualitas hasil panennya menurun. Serangan utama C. binotalis yaitu pada bagian dalam yang terlindungi daun hingga mencapai titik tumbuh. Kalau serangan ini ditambah lagi dengan serangan penyebab penyakit, tanaman bisa mati karena bagian dalamnya menjadi busuk meskipun dari luar kelihatannya masih baik (Santosa dan Sartono, 2007).
Pada waktu siang hari bila ada gangguan imago akan terbang untuk mencari perlindungan. Kupu-kupu bertelur dalam satu kelompok dengan ukuran 2,5 x 3 – 4 x 5 mm. Kupu-kupu betina umurnya dapat mencapai 16 – 24 hari dan menghasilkan 11 – 18 butir telur. Setiap kelompoknya terdiri dari 30 – 80 butir telur (Pracaya, 2001).

Pengendalian Hama Ulat Crop
            Menurut Ahmad (2007) Pengendalian yang dapat dilakukan adalah (1) Melakukan sanitasi Kebersihan kebun, yaitu dengan membersihkan kebun dari bahan-bahan organic yang bisa membusuk yang dapat menjadi sarang tempat hama ini bertelur. (2) Melakukan pola tanam dan pengaturan jarak tanam, jangan menanam dua jenis tanaman yang disukai ulat crop berdekatan. (3) Secara biologis, yaitu dengan menggunakan musuh alami dari hama ini, (4) Secara mekanis dengan menangkapi langsung hama ini dan di musnahkan. (5) Melakukan pemangkasan agar lingkungan tajuk tidak terlalu rimbun. (6) Melakukan pemangkasan terhadap tanaman yang terserang berat. (7) Dengan menggunakan perangkap yaitu berupa perangkap cahaya. (8) Membuat persemaian di tempat yang tidak terlindung atau mengurangi naungan. (9) Secara kimia, yaitu dengan penggunaan Insektisida alami seperti akar tuba, daun pucung tembakau dan lengkuas dan disemprotkan pada pada daun, batang dan bagian lainnya yang belum terserang.


PERMASALAHAN
            Ulat jantung (Crocidolomia binnotalis) merupakan hama yang penting pada tanaman kubis. Munculnya hama ini pada pertanaman kubis merupakan ancaman yang serius bagi petani. Pada tahun 1998 Balai Proteksi Tanaman Pangan & Hortikultura V melaporkan ulat jantung kubis merupakan hama yang menempati urutan pertama penyebab kerusakan tanaman kubis.
Selanjutnya disampaikan bahwa pada tanaman kubis sampai sekarang belum dapat diatasi secara memuaskan, meskipun pengendalian kimia telah dilakukan secara intensif. Tanaman kubis (Brassica oleraceae var. capitata L.) merupakan tanaman sayuran yang sudah tidak asing lagi bagi masyarakat, baik itu kalangan konsumen maupun para petani. Kubis merupakan tanaman sayuran yang sekarang telah banyak diusahakan para petani di pedesaan Indonesia dan telah dijadikan salah satu andalan sumber nafkah para petani untuk meningkatkan taraf hidup.
Hasil rata-rata produksi kubis di Indonesia tergolong masih rendah, yaitu berkisar 10 -15 ton per ha.  Dibandingkan dengan negara-negara penghasil kubis lainnya seperti Nederland, ± 36 ton per ha dan Amerika Serikat ± 25 ton per ha. Di Provinsi Sulawesi Utara sendiri yang merupakan daerah pertanaman sayuran yang cukup besar di kawasan Indonesia Timur memiliki rata-rata produksi hanya 12 ton per ha.  Rendahnya produksi tanaman kubis di Sulawesi Utara selain disebabkan oleh sistem bercocok tanam yang masih bersifat konvensional juga oleh adanya serangan hama terutama hama ulat crop ini karena bersifat merusak.
Ulat ini biasanya ditandai dengan adanya kumpulan kotoran pada daun kubis dan krop menjadi berlubang-lubang yang menyebabkan kualitas hasil panennya menurun. Serangan utama C. binotalis yaitu pada bagian dalam yang terlindungi daun hingga mencapai titik tumbuh. Kalau serangan ini ditambah lagi dengan serangan penyebab penyakit, tanaman bisa mati karena bagian dalamnya menjadi busuk meskipun dari luar kelihatannya masih baik.
Serangan hama dan penyakit merupakan faktor pembatas produksi yang masih berpengaruh besar  dalam budidaya kubis. Selain menyerang tanaman serangga juga dapat berperan sebagai vector penyakit yang berbahaya.

PEMBAHASAN
Dari hasil pengamatan didapati bahwa Pada tanaman kubis yang pada serangan berat ulat crop akan dapat merusakkan hampir keseluruhan dari bagian tanaman kubis karena ulat ini langsung menyerang ke titik tumbuh tanaman. Hal ini sesuai dengan literature yang dikemukakan oleh Ahmad (2007) yang menyatakan bahwa pada tanaman kubis yang diserang hebat akan menjadi rusak. Cara makan larva yang rakus dan mampu menghabiskan seluruh daun kubis merupakan alas an yang menyebabkan ulat ini menjadi hama utama pada kubis.
Dari hasil pengamatan didapati bahwa untuk mengendalikan hama ini diperlukan tehnik tehnik tertentu misalnya secara mekanis, biologis dan kimiawi. Hal ini sesuai dengan literature yang dikemukakan oleh Santosa dan Sartono (2007) yang menyatakan bahwa Pengendalian yang dapat dilakukan antara lain Secara biologis, yaitu dengan menggunakan musuh alami dari hama ini, sepertiTabuhan Trichograma sp. Lalat sturmiopsis inferens Townsend, Secara kimia, yaitu dengan penggunaan Insektisida alami, Secara mekanis dengan menangkapi langsung hama ini dan di musnahkan.
Dari hasil pengamatan didapati bahwa gejala serangan pada hama ini terlihat Mula mula Larva muda bergerombol di permukaan bawah daun kubis dan meninggalkan bercak putih pada daun yang dimakan. Larva instar ketiga sampai kelima memencar dan menyerang pucuk tanaman kubis sehingga menghancurkan titik tumbuh. Akibatnya tanaman mati atau batang kubis membentuk cabang dan beberapa crop yang kecil.
Kubis bunga biasa tumbuh pada daerah yang bersuhu antara 20-25ºC.  Hal ini Sesuai dengan Ahmad (2007) yang menyatakan bahwa Kubis bunga biasa tumbuh pada daerah yang bersuhu antara 20-25ºC. Suhu yang terlalu rendah atau terlalu tinggi akan menyebabkan pertumbuhan dan perkembangan bunganya terganggu.
KESIMPULAN
1.      Kubis (Brassica oleracea. )  merupakan tanaman hortikultura
2.      Hama ulat krop (crocidolomia binotalis.) merupakan hama utama bagi tanaman kubis
3.      Biologi hama crocidolomia binotalis.adalah, telur, ulat, dan imago
4.      Gejala serangan yang ditimbulkan crocidolomia binotalis. terlihat pada Larva muda bergerombol di permukaan bawah daun kubis dan meninggalkan bercak putih pada daun yang dimakan.
5.      Pada serangan yang berat menyabebkan tanaman kubis menjadi rusak diseluruh bagian dan dapat menurunkan produksi tanaman dalam jumlah yang besar
6.      Pengendalian yang dapat dilakukan antara lain: kebersihan kebun, mengatur pola tanam, pennggunaan pestisida alami, dengan musuh alami, dan dengan menangkap langsung hama ini dll.

DAFTAR PUSTAKA
Ahmad, H. 2007. Laporan Hama Ulat Crop (Crocidolomia binotalis Zell.) (Lepidoptere : Pyralidae) pada Kubis (Brassica oleracea L.). Dizited by IPB e-repository copy right. Diakses dari http://repository.ipb.ac.id/ pada tanggal 22 Mei 2012
Hadiwigeno, R. W. 2007. Pengenalan Hama dan Penyakit Tanaman Hortikultura. ITSN e-repository. Diakses dari http://repository.its.ac.id/ pada tanggal 22 Mei 2012
http://web.entomology.cornell.edu/ diakses pada tanggal 22 Mei 2012
http://www.deptan.go.id/keefektifantanah/ diakses pada tanggal 22 Mei 2012
http://pertanian.uns.ac.id/~agronomi/ diakses pada tanggal 22 Mei 2012
Jumar, 1997. Entomologi Pertanian. Rineka Cipta. Jakarta.
Mulyono, A. G. S. 2012. Pengaruh Pemberian Perlakuan Berbeda terhadapat Tanaman Kubis dalam lahan Rumah Kaca dengan teknik Invitro. Program Studi Agronomi dan Hortikultura, IPB. Bogor.
Novary, T. S. 1997. Bertanam Kubis. Penebar Swadaya. Jakarta
Pracaya, 2007. Hama dan Penyakit Tanaman. Penebar Swadaya. Jakarta.
Purnamasari, RD.A.W. 2006. Keefektifan CRY1B dan CRY1C Bacillus thuringiensis B. terhadap Ptutella xylostella L. (Lepidoptera:Yponomeutidae) dan Crocidolomia pavonana L. (Lepidoptera:Pyralidae). Program Studi Hama dan Penyakit Tumbuhan, Fakultas Pertanian, IPB. Bogor.
Rukmana, H. 2010. Analisis Perkembangan Tanaman Hortikultura Kubis di Kebun Percobaan Institut Pertanian Bogor. Diakses dari http://repository.ipb.ac.id/ pada tanggal 22 Mei 2012
Rukmana, H. 2012. Analisis Perkembangan Tanaman Hortikultura di Indonesia Bagian Tengah. Program Studi Agronomi dan Hortikultura, IPB. Bogor.
Santosa, J dan Sartono, S. 2007. Laporan Penelitian Kajian Insektisida Hayati terhadap Daya Bunuh Ulat Ptutella xylostell dan Crocidolomia binotalis pada Tanaman Kubis Crop. Balai Penelitian dan Pengembangan, Departemen Pertanian RI. Jakarta. Diakses dari http://www.deptan.go.id/ pada tanggal 22 Mei 2012.
Spittstoesser, G.D. 1984. The Analitycal of Pest Control. University of California. San Fransisco.
Sutarya, A.J., Sartika, F.S., dan Junaidi, A.S. 1995. Perkembangan Pertumbuhan Tanaman Hortikultura Kubis di Kebun Percobaan Institut Pertanian Bogor. Diakses dari http://repository.ipb.ac.id/ pada tanggal 22 Mei 2012
Wahyuni, S. 2006. Perkembangan Hama dan Penyakit Kubis dan Tomat pada Tiga Sistem Budidaya Pertanian di Desa Sukagalih Kecamatan Megamendung Kabupaten Bogor. Program Studi Proteksi Tanaman, Fakultas Pertanian, IPB. Bogor.

2 komentar:

  1. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  2. benar gak tuh famili Crocidolomia pavonana Pyralidae??

    BalasHapus